Jam Indonesia

Selamat datang

SELAMAT DATANG DI BERITA-BERITA ISLAM
BLOG YANG KHUSUS UNTUK BERITA-BERITA ISLAM

Senin, 27 Februari 2012

"Salat Jumat itu Mengusik Intelektualitas, Jiwa dan Hati Saya"



Raphael, warga AS keturunan Amerika Latin ini, adalah seorang pemimpin kelompok keagamaan Saksi Yehova sebelum akhirnya ia mengubah keyakinannya pada Alkitab ke Al-Quran setelah berkunjung ke sebuah masjid.
Lelaki kelahiran Texas yang berprofesi sebagai dosen dan suka melawak ini mengucapkan dua kalimat syahadat pada tanggal 1 November 1991. Sebagai mantan pemimpin jamaah gereja Saksi Yehovah, tak sulit bagi Raphael untuk mendakwahkan Islam, begitu ia menjadi seorang muslim. Lalu bagaimana ceritanya sampai Raphel mengenal Islam dan akhirnya memutuskan masuk Islam?
Sejak usia muda, 20 tahun, Raphael sudah dipercaya untuk memimpin sebuah jamaah Saksi Yehova. Ia mengatakan, gereka Saksi Yehova memiliki sistem kaderisasi berupa program pelatihan yang sangat canggih, dengan memberlakukan sistem kuota. Seorang kader pemimpin Saksi Yehova harus mengabdikan dirinya, dengan cara menyediakan waktu 10 sampai 12 jam setiap bulannya, untuk melakukan khutbah dari rumah ke rumah.
"Sistem kerjanya seperti manajemen penjualan. Manajemen penjualan di IBM saja mungkin kalah dengan para kader Saksi Yehova yang dilatih menjadi pemimpin kelompok," kata Raphael memberikan gambaran canggihnya sistem pelatihan kader di Saksi Yehova.
"Maka, ketika saya sudah menjadi seorang kader pelopor, saya mengabdikan hampir seluruh waktu saya berkunjung dari pintu ke pintu. Saya diwajibkan melakukan khutbah selama 100 jam per bulan, dan harus mempelajari tujuh versi Alkitab," sambung Raphael.
Tapi lama kelamaan, Raphael merasakan ada kejanggalan dalam ajaran Saksi Yehova, termasuk konsep sistem kuota. Sepertinya, jika seseorang berhasil memenuhi kuota yang ditetapkan untuk menyebarkan ajaran Saksi Yehova, maka Tuhan akan mencintai orang itu. "Jika Anda tidak bisa memenuhi kuota di bulan-bulan berikutnya, Tuhan tidak akan mencintamu. Hal ini sungguh tidak masuk akal. Bagaimana bisa. di bulan ini Tuhan mencintai saya dan di bulan lain Tuhan bisa tidak mencintai saya hanya karena tidak memenuhi kuota yang ditetapkan," papar Rapahel.
Hal lain yang menurutnya tidak masuk akal adalah, keyakinan ajaran saksi Yehova bahwa merelah satu-satunya umat yang akan diselamatkan oleh tata baru dunia yang ditetapkan Tuhan. Mereka yang bukan penganut Saksi Yehova, tidak akan selamat.
"Saya berpikir, Bunda Theresa bukan seorang penganut Saksi Yehova, tapi ia menghabiskan waktunya untuk melakukan apa yang diajarkan Yesus, melakukan kebaikan; mulai dari menjaga orang-orang jompo, merawat orang sakit dan anak-anak yatim piatu. Tapi apakah Tuhan tidak akan menyayanginya hanya karena ia seorang Katolik, agama yang dianggap musuh oleh jamaah Saksi Yehova?" tanya Raphael heran.
Masih banyak lagi hal-hal yang ia lihat dan ia dengar, yang membuatnya justru jadi mempertanyakan ajaran Saksi Yehova yang sedang disebarluaskannya. Secara spiritual, Raphael mengaku ia tidak lagi merasa nyaman. Tahun 1979, Raphael memutuskan untuk keluar dari jamaah Saksi Yehovah, sambil menggerutu karena baru saat itu ia sadar bahwa selama ini ia telah banyak membuang waktunya dengan mengabdikan diri pada gereja.
"Problemnya, saya tidak mengabdikan diri pada Tuhan. Tapi pada organisasi buatan manusia," tukas Raphael.
Lepas dari Saksi Yehova, ia bingung mau kemana. Ajaran Yehova mendoktrinnya untuk meyakini bahwa semua ajaran agama adalah salah, kecuali ajaran Saksi Yehova, bahwa menyembah berhala itu perbuatan buruk dan konsep Trinitas tidak berlaku.
"Saya seperti lelaki tanpa agama. Saya bukan seorang lelaki, tanpa keyakinan pada Tuhan. Tapi ketika itu saya tidak tahu harus pergi kemana," ujar Raphael.
Mengenal I-S-L-A-M
Tahun 1985, ia pindah ke Los Angeles dan mendatanagi gereka Katolik yang berlokasi tak jauh dari rumahnya. Raphael ingin mencoba ajaran Katolik, tapi itu hanya bertahan selama dua sampai tiga bulan. Raphael kemudian menjalani kembali kehidupan tanpa agamanya, sembari bekerja dengan membintangi beberapa film dan menjadi bintang iklan.
Suatu hari di sebuah mall menjelang perayaan Natal, Raphel melihat seorang perempuan melintas di hadapannya. Ia mencoba menyapa perempuan itu dan ingin mengajak mengobrol, tapi ia tidak mendapat respon. Dari si perempuan itu pula Raphael tahu bahwa ia seorang muslimah dan tidak bisa sembarangan bicara dengan seorang lelaki, kecuali betul-betul ada keperluan khusus.
Kata "Muslim" benar-benar asing di telinga Raphael, ia pun meminta si muslimah tadi mengeja huruf-huruf dari kata Islam, agama orang Muslim. Ketika itu, yang Raphael tahu semua Muslim adalah teroris. Tapi Raphael terus bertanya pada muslimah tadi tentang bagaimana awal munculnya agama Islam. Si muslimah lalu menceritakan bahwa agama Islam diturunkan pada Nabi Muhammad Saw dan disebarkan oleh nabi terakhir pada umat manusia.
Setelah mendengar cerita tentang Islam dan Nabi Muhammad, Raphael mulai melakukan riset. Niatnya waktu itu cuma ingin mencari tahu, dan tidak punya keinginan untuk menjadi seorang muslim.
Meski tak menganut agama apapun, Raphel terus berdoa. Namun ia merasa doa-doanya tak dijawab Tuhan. Hingga suatu hari, saat membereskan laci meja pamannya yang akan pulang setelah dirawat di rumah sakit, Raphael menemukan Injil Gideon di dalam laci itu, dan ia merasa Tuhan menjawab doanya bahwa ia harus menjadi seorang penganut Kristen. Raphael pun berdoa lagi, meminta pada Tuhan agar ia bisa menjadi seorang Kristen. Bukan menjadi menjadi seorang penganut Saksi Yehova lagi, dan bukan penganut Katolik.
Suatu ketika, saat sedang membaca Kitab Perjanjian Lama, Raphael teringat perkataan muslimah yang ia jumpai di mall bahwa kaum Muslimin punya seorang nabi, Nabi Muhammad Saw. "Tapi mengapa nama Nabi itu tidak ada dalam kitab ini?" Raphael bertanya-tanya dalam hati.
Ia pun mulai memikirkan tentang kaum Muslimin, berapa jumlahnya di seluruh dunia? Raphel pun memutuskan untuk mulai membaca terjemahan Al-Quran. Ia lalu pergi ke sebuah toko buku bahasa Arab. Pada penjaga toko, Raphael mengatakan bahwa ia membeli Quran karena cuma ingin membaca isinya, bukan ingin menjadi orang Islam.
Sesampainya di rumah, Raphael mulai membaca Al-Quran, mulai dari Surat Al-Fatihah dan seterusnya, mata Raphael seolah tidak mau lepas dari Al-Quran yang dibacanya. Ia terkesima begitu mengetahui bahwa Al-Quran juga menceritakan tentang nabi-nabi lainnya yang Raphael kenal dalam ajaran Kristen, seperti Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan lain-lain.
Ke Masjid
Setelah membaca Quran, Raphael berpikir, apa lagi yang akan ia lakukan selanjutnya? Ia lalu membuka buku halaman kuning, dan akhirnya menemukan apa yang ia cari, sebuah Islamic Center di Vermont, California Selatan. Setelah menelpon ke Islamic Center itu, pihak Islamic Center memintanya datang pada hari Jumat.
"Saya betul-betul grogi waktu itu. Saya berpikir bahwa saya akan pergi menemui seorang habib bersenjata AK-47," ungkap Raphael membayangkan "teroris muslim" yang kerap ia baca dan dengar dari media massa.
Akhirnya, ia sampai juga ke Islamic Center di Vermont. Saat datang, sedang berlangsung khutbah Jumat, kemudian Raphael melihat orang-orang di Islamic Center melaksanakan salat Jumat bersama.
"Sesuatu mulai merasuki intelektualitas saya, bahkan rasanya sampai ke otot, tulang, hati dan jiwa saya," tutur Raphael mengingat perasaannya saat itu.
Usai salat, beberapa jamaah menyapanya dengan ucapan "assalamualaikum" yang oleh Raphael seperti terdengar kata "Salt and Bacon". Raphael heran ketika banyak orang yang mengucapkan "Salt and Bacon" padanya dengan senyum, seolah orang-orang itu sudah mengenalnya.
Tak tahu apa yang harus dilakukan, Raphael pergi ke perpustakaan dan di sana ia bertemu dengan anak muda bernama Omar, asal Mesir. Omar bertanya, apakah ini pertama kalinya Raphael datang ke tempat itu. Raphael menjawab "Ya".
"Oh, selamat datang. Apakah kamu muslim?" tanya Omar.
"Bukan. Saya cuma pernah sedikit membaca tentang Muslim," jawab Raphael.
"Oh, apakah kamu sedang belajar? Ini pertama kalinya kamu berkunjung ke masjid?" tanya Omar lagi.
"Ya," jawab Raphael.
Ia lalu diajak berkeliling masjid oleh Omar, yang menggandeng tangannya. Seorang lelaki lain, kemudian bergabung dengan mereka. "Orang-orang Muslim sangat ramah dan bersahabat," kata Raphael dalam hati.
Raphael di ajak melihat tempat salat, diberitahu mengapa alas kaki harus dilepas saat masuk ke tempat salat, lalu ke tempat wudu. "Apa? Voodoo (ilmu sihir), saya tidak tahu apa-apa soal Voodoo," kata Raphael terperanjat mendengar kata "wudu" yang terdengar seperti kata "Voodoo" di telinganya.
"Bukan ... Bukan Voodoo, tapi Wudu!" kata Omar yang kemudian menjelaskan apa itu Wudu.
Selesailah acara kunjungan Raphael hari itu. Ia pamit pulang dan meminta pada pustakawan buklet tentang salat. Di rumah, Raphael mempelajari dan mempraktekan petunjuk salat di buklet itu.
Akhirnya, pada tanggal 1 November 1991, Raphael bertekad bulat untuk menjadi seorang muslim dan hari itu ia mengikrarkan dua kalimat syahadat. (In/IslamicBulletin)

"Menikahlah dengan Siapa Saja, Asal Bukan Seorang Muslim"



Pada malam tahun baru saat usianya masih 17 tahun, Susan Carland membuat beberapa resolusi, dan salah satunya adalah "mencari tahu tentang agama-agama lain" selain agama Kristen Baptis yang dianutnya sejak kecil.
Ketika Susan mengungkapkan resolusinya yang satu itu pada sang ibu, ibu yang sangat ia cintai itu menjawab dengan santai, "Aku tak peduli jika engkau menikah dengan seorang bandar narkoba sekalipun, asalkan jangan menikah dengan seorang muslim."
Kala itu itu, agama Islam tidak masuk dalam prioritas agama yang ingin Susan pelajari, apalagi berpikir untuk menikah dengan seorang muslim. "Islam terlihat keras, seksis dan asing," ujar Susan.
Tapi dua tahun kemudian, pada usia 19 tahun, Susan menjadi seorang muslimah. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat karena kemauannya sendiri, tanpa pengaruh siapa pun, termasuk pengaruh seorang laki-laki. Lalu bagaimana reaksi ibu Susan melihat puterinya masuk Islam?
Suatu malam, ibu Susan mengatakan bahwa ia membuat daging babi iris untuk makan malam. Malam itulah pertama kalinya ibu Susan tahu puterinya sudah menjadi seorang muslimah. Ibu menyebut Susan 'korban' Islam. "Tapi ibu memeluk saya, meski ia menangis," ungkap Susan. Beberapa hari kemudian, Susan malah memutuskan untuk mengenakan jilbab.
Selama 8 tahun memeluk Islam, hubungan Susan dengan ibunya mengalami masa-masa sulit. Tapi sekarang hubungan keduanya mulai membaik. Ibunya bahkan jadi sering membelikannya jilbab dan mengirimkan hadiah untuk anak-anak Susan pada saat Idul Fitri.
Susan menyelesaikan studinya hingga mencapai gelar PhD. Ia melakukan riset tentang tantangan yang dihadapi kaum perempuan musim dalam masalah kepemimpinan. Susan sekarang menjadi dosen dan tutor di School of Political and Social Inquiry di Universitas Monash, Melbourne, Australia, untuk bidang studi gender, pemuda dan sosiologi agama.
"Saya mencintai Islam dan Muslim, tanpa keraguan. Orang-orang yang paling mengagumkan dan paling inspiratif yang pernah saya temui adalah kaum Muslimin, dan hal itu membantu saya untuk tidak menarik diri sama sekali dari tengah masyarakat," tutur Susan.
Susan menikah dengan seorang lelaki muslim pada Februari 2002. Ia menggelar pesta pernikahannya di kebun binatang Melbourne. Suaminya seorang pengacara bernama Waleed Aly, yang juga menjabat sebagai dewan eksekutif Islamic Council of Victoria. Aly, muslim keturunan Mesir yang lahir di Australia itu juga menjadi dosen di Universitas Monash dan bekerja di Global Terrorism Research Centre.
"Ketika saya masuk Islam, saya dan Waleed belum bertemu. Saya masih seorang diri. Kami memutuskan menikah beberapa tahun setelah saya menjadi seorang muslimah," tukas Susan.
Ditanya tentang perjalanan spiritualnya setelah masuk Islam, Susan mengungkapkan bahwa ia merasakan sebuah kebebasan intelektual. "Saya mengawalinya dengan ikut masuk dalam ruang chatting Muslim di internet. Saya berkenalan dan menjalin komunikasi dengan beberapa muslimah yang sedang menimba ilmu di universitas saya. Mereka dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan saya," ujar Susan.
Ia melanjutkan, "Ketika saya membiarkan agama bicara untuk dirinya sendiri melalui tradisinya, melalui para ulama dan teks-teks suci, untuk melawan apa yang ditulis para wartawan di tabloid-tabloid dan perilaku muslim yang menggemparkan, saya menemukan bahwa Islam adalah agama yang penuh kedamaian, egalitarian, berkeadilan sosial dan keseimbangan yang indah antara spiritual dan intelektual."
Susan mendakwahkan Islam dengan membuat program televisi Salam Cafe yang ditayangkan secara nasional oleh jaringan televisi Australia. Ia banyak menerima penghargaan untuk program yang dibuatnya itu. Susan juga sering diundang sebagai pembicara di gereja, sekolah-sekolah, organisasi bisnis, organisasi kemasyarakatan bahkan komunitas Yahudi. Ia aktif di berbagai lembaga penelitian. Tak heran jika ia pernah terpilih sebagai toloh Muslim Australia Tahun 2004, dan mendapatkan hadiah sebesar 2.000 dollar yang ia sumbangkan ke berbagai lembaga amal, baik lembaga muslim maupun non-Muslim. (kw/oi)

Perjalanan Panjang Musisi Inggris Menuju Cahaya Islam

Lahir di Inggris, sejak kecil ia sudah terlibat dalam berbagai produksi musik, bisa memainkan beberapa alat musik dan aktif menyanyi. Hingga ia beralih ke lagu-lagu nasyid dan meluncurkan CD nasyid pertamanya bertajuk "Peace" dalam Konferensi "Global Peace and Unity" di London pada tahun 2008.
Dia adalah Abdullah Rolle. Ia masuk Islam tujuh tahun yang lalu. Perjalanannya menuju Islam seiring sejalan dengan karirnya yang terus berkembang sebagai artis lagu-lagu nasyid. Inilah kisah perjalanan Rolle menemukan cahaya Islam dan menjadi seorang muslim hingga saat ini;
Suatu pagi, Rolle sedang berjalan di pasar. Tiba-tiba seorang muslim datang padanya dan bertanya apakah ia bisa bicara dengan Rolle sebentar saja. Laki-laki muslim itu bertanya apakah Rolle tahu tentang Islam dan Nabi Muhammad Saw, dan Rolle menjawab bahwa ia tahu bahwa Tuhan adalah pencipta segala sesuatu tapi selama ini ia diajarkan tentang Yesus, bukan tentang Nabi Muhammad Saw. Rolle berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Saya tidak pernah serius dengan masalah agama. Beberapa tahun kemudian, saya berbincang dengan seorang muslim tentang Allah yang Mahakuasa, tapi masih belum siap untuk mempertimbangkan apapun tentang Islam atau menjadi seorang seorang muslim," ujar Rolle.
"Saya belum pernah bertemu dengan orang seperti itu. Orang-orang yang saya jumpai adalah mereka terlibat dalam bisnis musik dan mereka punya gaya hidup sendiri-sendiri. Makanya, waktu itu, saya tidak melihat peluang untuk tertarik pada Islam. Tapi rupanya, waktunya saja yang belum tiba," sambung Rolle mengenang pengalamannya bertemu dengan muslim.
Toko Buku dan DVD yang Mengubah Hidupnya
Ketika pindah ke London Timur, Rolle sering berkunjung ke toko buku Dar Assalam di kawasan West End. Rolle senang mengikuti perkembangan dunia, membaca tentang hal-hal yang bernuansa konspirasi dan kejadian-kejadian di dunia.
"Beberapa hal yang saya baca, ada yang benar dan ada yang tidak. Tapi itu tidak juga membawa saya lebih dekat pada Sang Pencipta. Jiwa saya selalu mencari dan mencari, meski saya tidak menyadari itu seratus persen," tuturnya.
Pegawai di toko buku selalu memberikan buklet pada Rolle. Ia menerimanya dan hanya menyimpannya di lemari. Ia baru merasa simpati pada umat Islam ketika AS menginvasi Irak dan Rolle membaca semua buklet yang disimpannya. Rolle bertanya pada dirinya sendiri, mengapa dunia selalu menyerang Islam dan umat Islam. Rolle menyaksikan bagaimana media massa menggambarkan umat Islam sebagai teroris. Rolle tahu bahwa media massa belum tentu benar dan tidak selalu menyampaikan kebenaran. Rolle ingin tahu mengapa ada pihak yang menyerang umat Islam. Dalam kebingungannya mencari jawaban, Rolle masuk kamar, bersujud dan berdoa.
Suatu hari, di depan toko buku Dar Assalam yang biasa dikunjunginya, Rolle berkata pada anak lelakinya, "Aku butuh sesuatu untuk memberi makan jiwa saya. Buku-buku yang lain tidak memberi dampak apapun buat saya." Anak lelaki Rolle lalu menunjuk sebuah DVD berjudul "What Is The Purpose of Life?" oleh Khaled Yasin. Rolle membeli DVD itu. Di rumah, usai menyaksikan DVD yang dibelinya, Rolle merasa sangat terinspirasi.
"Semua hal yang dijelaskan dalam DVD itu, saya merasa sudah tahu semua. Saya tahu apa yang dikatakan di dalamnya adalah kebenaran," kenang Rolle.
Dari DVD itu, Rolle mengetahui bahwa umat Islam menunaikan salat lima waktu sehari. Karena saat itu Rolle masih berkecimpung di jalur musik yang umum, Rolle merasa ia tidak bisa melakukan salat seperti yang dijelaskan dalam DVD tersebut, tapi hatinya yang paling dalam mengakui kebenaran akan perintah salat itu.
Waktu terus berjalan. Rolle jadi sering berkumpul dengan komunitas Muslim dan ia merasakan betapa sahabat-sahabat muslimnya sangat perhatian padanya. "Saya menghabiskan waktu bersama mereka selama dua tahun. Mereka mengajarkan, meluruskan dan mengingatkan saya. Kebanyakan dari mereka adalah pegawai di toko buku itu. Sejak itu saya jadi akrab dengan mereka," ujar Rolle.
Ia terkesan dengan perilaku teman-teman barunya itu. "Saya selalu melihat bahwa kebanyakan muslim sikapnya sopan, baik hati dan suka membantu. Mereka sendiri menghadapi berbagai problematika umat di berbagai belahan dunia, tapi sebagai pribadi, muslim yang saya jumpai selalu bersikap ramah pada saya. Saya ingin berusaha agar menjadi orang yang taat, dan saya terus berusaha. Saya ingin seperti mereka," komentar Rolle tentang muslim.
Pada saat itu, Rolle sudah meyakini Islam, punya dasar pengetahuan yang lumayan tentang agama Islam dan sedang terus belajar tentang Islam. Teman-teman muslimnya bilang bahwa Rolle harus mendeklarasikan dua kalimat syahadat jika ingin menjadi seorang muslim. Teman-teman muslimnya juga mengingatkan Rolle bahwa kematian selalu mengintai setiap manusia, apalagi yang ditunggunya jika tidak segera menjadi seorang muslim. Tapi, lagi-lagi Rolle merasa dirinya belum siap menjadi seorang muslim.
Di tengah kebimbangannya, Rolle menyaksikan DVD berjudul "One Islam" oleh Syaikh Fiez di Australia. Dari DVD itu, Rolle belajar tentang tentang Hari Kiamat dalam ajaran Islam. Rasa takut pada Tuhan tiba-tiba mengusik hatinya, jika ia bisa masuk Islam sebelum Hari Akhir itu, maka Rolle akan melakukannya.
Keesokan harinya, ia menghubungi teman-teman muslimnya, dan mengatakan bahwa ia siap untuk menjadi seorang muslim. Sahabat-sahabatnya menyambut gembira keputusan Rolle dan menyiapkan acaranya di akhir pekan.
Setelah resmi menjadi seorang muslim. Rolle kadang merasa iri melihat para ulama muslim. Ia berharap sudah masuk Islam ketika usianya jauh lebih muda. Tapi Allah Maha Tahu yang baik bagi hamba-hamba-Nya.
"Teman-teman membantu saya pelan-pelan. Di masa awal saya masuk Islam, mereka tidak bilang bahwa musik itu haram. Jika mereka mengatakannya pada saat itu, saya mungkin tidak mau menjadi seorang muslim, karena sedang mengerjakan sejumlah proyek musik. Mereka meyakinkan saya, bahwa sementara itu saya boleh tetap terus bermusik, asalkan saya punya niat sewaktu-waktu saya akan keluar dari dunia musik," tutur Rolle.
Rolle ingat, tantangan terbesar baginya setelah masuk Islam adalah belajar bahasa Arab dan belajar bacaan salat dan doa-doa dalam bahasa Arab. Ia merasa kembali ke bangku sekolah. Tapi Rolle senang karena akhirnya ia berhasil menghapal beberapa surat Al-Quran dan bisa membacanya. "Sehingga saya bisa salat. Saya hal yang sangat ingin bisa saya lakukan lebih dari apapun juga," tukas Rolle yang belajar praktek salat dan membaca Al-Quran juga dari berbagai DVD.
Menjadi Artis Nasyid Internasional
Saat baru masuk Islam, Rolle masih bekerja sebagai guru musik untuk anak-anak di beberapa sekolah dan menulis beberapa lagu untuk anak-anak yang kabur dari rumah dan ditampung di pusat belajar di kota tempatnya tinggal. Ia jadi banyak tahu kisah-kisah sedih anak-anak itu, dan ingin menolong mereka. Rolle juga aktif di pusat kegiatan masyarakat dan berbisnis dengan menawarkan jasa mengajar musik pada anak-anak muda.
Lama kelamaan Rolle berpikiri adakah berkah Allah Swt dengan apa yang dikerjakannya. "Jika saya harus berdiri di hadapan Allah, apa yang akan saya katakan tentang diri saya dan kegiatan saya mengajar musik? Saya akhirnya memutuskan untuk menghentikan aktivitas saya; di sekolah, pusat kegiatan masyarakat dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan musik. Sebagian orang menghormati keputusan saya, sebagian lagi mengatakan bahwa tindakan saya salah," kisah Rolle.
Kala itu, Rolle tidak berpikir untuk beralih ke musik nasyid, meski ia punya studio rekaman sendiri. Rolle lalu bicara dengan seorang muslim yang ayahnya seorang ulama di Arab Saudi dan pemilik Masjid Tauhid di London. Rolle minta nasehat sahabat muslimnya itu dan akhirnya mulai merintis karir di bidang musik nasyid.
Sekarang, selain aktif dalam berbagai kegiatan bersama komunitas Muslim di Inggris, Rolle memfokuskan karirnya sebagai artis nasyid bertaraf internasional, dan meluncurkan CD lagu-lagu nasyidnya bertajuk "Peace" di Afrika Selatan pada tahun 2009. (kw/oi)

Kätlin Hommik, "Ayah, akan Jadi Apa Saya Saat Mati?"



Kätlin Hommik lahir dari keluarga yang menganut agama Kristen di Estonia. Tapi Estonia ketika Hommik masih kanak-kanak, berada dibawah kekuasan Uni Soviet yang berideologikan komunis, dimana agama menjadi hal yang tabu dan tak seorang pun boleh membicarakan soal agama.
Satu hal yang masih diingat Hommik, ketika ia berusia tiga tahun dan menanyakan pada ayahnya, "Akan jadi apa saya saat mati?". Hommik melihat wajah ayahnya tercengang mendengar pertanyaannya. "Bagaimana bisa anak usia tiga tahun mengajukan pertanyaan seperti ini," begitu mungkin yang terlintas di benak sang ayah.
Ayahnya tak memberi jawaban yang memuaskan Hommik kecil. Di tengah kehidupan masyarakat yang berada dibawah kekuasaan komunis yang tak percaya Tuhan, ayah Hommik hanya memberikan jawaban singkat dan sederhana, "Anakku sayang, kamu hanya akan dikubur di dalam tanah ..."
"Saya tidak pernah mendengar hal yang tidak logis dan menyeramkan seperti jawaban ayah saya pada hari itu. Jawaban yang membuat saya mencari kebenaran, meski waktu itu saya baru berumur tiga tahun. Tapi jalan panjang membentang di hadapan saya. Saya tahu, atau sebenarnya merasa bahwa Tuhan itu ada, meski saya tidak bisa harus menyebut-Nya dengan sebutan apa," tutur Hommik.
"Saya tahu Tuhan selalu ada, mengamati saya. Kalau saya harus menjadi seorang anak perempuan yang baik, itu bukan untuk kedua orang tua saya, tapi buat Tuhan, karena Dia-lah satu-satunya yang melihat saya dimanapun saya berada, bukan orang tua saya," lanjut Hommik.
Memasuki masa sekolah, Hommik makin sering mengajukan pertanyaan-pernyataan rumit yang tidak mampu dijawab ayahnya. Sang ayah lalu menyuruh Hommik bertanya pada nenek dari pihak ayah. Nenek Hommik lahir ketika Estonia baru lahir sebagai negara Republik, sehingga sang nenek sempat merasakan dibaptis seperti anak-anak lainnya yang beragama Kristen. Neneklah yang pertama kali mengatakan pada Hommik untuk menyebut "Tuhan" yang selama ini ada dalam pikiran Hommik dengan sebutan Tuhan.
"Nenek juga yang mengajarkan saya doa dalam agama Kristen 'Bapak kami yang ada di surga'. Tapi nenek meminta saya untuk tidak membacanya di depan umum atau di depan orang tua saya, karena jika saya melakukan itu, akan jadi masalah. Saya berjanji pada diri sendiri untuk belajar agama Kristen lebih banyak seiring saya tumbuh dewasa," ungkap Hommik.
Ketika usia Hommik 11 tahun, Estonia merdeka dan lepas dari Uni Soviet. Hommik mewujudkan niatnya belajar agama Kristen. Ia lalu mendaftarkan diri ke sekolah Minggu yang diselenggarakan gereja. Sayangnya, pihak Sekolah Minggu mengeluarkan Hommik, karena ia dianggap terlalu banyak bertanya hal-hal yang oleh gereja dianggap tidak pantas ditanyakan, karena menunjukkan Hommik tidak yakin akan agama yang dipelajarinya.
"Saya betul-betul tidak mengerti mengapa mereka mengeluarkan saya. Saya merasa tidak ada yang salah dengan pertanyaan saya. Saya cuma ingin tahu mengapa Yesus Kristus disebut anak Tuhan, padahal 'Tuhan' tidak menikahi Maria. Lalu, mengapa Adam tidak disebut anak Tuhan, meski dia juga tidak punya ibu dan bapak. Tapi rasa ingin tahu saya ini dianggap terlalu berlebihan oleh guru saya," ujar Hommik menceritakan pengalamannya di Sekolah Minggu.
Ketika menginjak usia 15 tahun, Hommik mulai belajar agama Kristen sendiri. Ia menganggap dirinya sebagai seorang Kristiani. Tapi ia akhirnya menyadari bahwa ia tidak bisa menganggap dirinya seorang Kristiani karena ada banyak hal yang tidak bisa ia terima dalam ajaran Kristen. Hommik lalu berpikir untuk mencari sesuatu yang lain.
Setelah mempelajari beragama agama dan keyakinan, Hommik akhirnya menemukan Islam. Pengalamannya kecewa dengan ajaran Kristen, membuat Hommik cukup lama belajar Islam sebelum benar-benar meyakininya. Waktu yang lama itu berbuah manis, Hommik menemukan apa yang dicarinya. Ia meyakini Islam sebagai ajaran agama yang paling masuk akal dan ia pun memutuskan untuk bersyahadat, menjadi seorang muslimah.
"Saya pindah ke agama Islam setelah bulan Ramadhan pada tahun 2001. Bulan Ramadhan adalah masa-masa yang indah. Orang berpuasa, menahan diri dari kesenangan fisik, memikirkan orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan kita. Itulah yang saya rasakan tentang hidup saya sebelum menjadi seorang muslim. Saya berpuasa dari apa yang paling dibutuhkan oleh manusia, puasa dari 'makanan' yang dibutuhkan jiwa dan pikiran," ujar Hommik.
Ia menyambung, "Saya betul-betul tidak punya penjelasan yang logis, mengapa saya masuk Islam setelah Ramadan, bukan sebelum atau pada saat Ramadan. Saya berpuasa sebulan penuh, lalu masuk Islam. Saya pikir, saya harus membersihkan diri saya, saya harus mengambil langkah terakhir untuk menerima sebuah kesempurnaan."
Ketika orang menanyakan mengapa Hommik memutuskan menjadi seorang muslim, Hommik selalu menjawab bahwa sebelumnya ia sudah menjadi seorang muslim, hanya saja ia tidak menyadarinya. Setelah menemukan Islam, butuh tiga tahun bagi Hommik untuk meyakinkan siapa dirinya sebenarnya. Sekarang, jika ada orang bertanya tentang kemuslimannya, Hommik tanpa ragu menjawab "Ya, inilah saya, saya yang sebenarnya. Pada usia 21 tahun saya memutuskan masuk Islam. Terima kasih pada Allah Swt !"
"Menjadi seorang muslim itu penuh rahmat. Kita puasa satu bulan penuh setiap tahun untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Banyak orang di dunia ini harus 'berpuasa' lebih lama dalam hidupnya dalam mencari kebenaran," tandas Hommik. (kw/TI)

Mualaf itu Jadi Ustaz di Kemiliteran AS Setelah Ditolak Jadi Opsir



Khalid Shabazz adalah satu dari lima pembimbing rohani muslim yang bertugas di basis militer AS di Eropa. Perjalanan hidup lelaki asal Alexandria itu, sampai menjadi seorang da'i yang memberikan bimbingan rohani bagi para prajurit AS di Eropa, cukup unik. Ia adalah seorang mualaf yang tekun mempelajari dan memperdalam Islam hingga dipercaya menjadi ustaz.
Nama aslinya adalah Michael Barnes, lulusan perguruan tinggi Jarvis Christian College, menganut aliran Kristen Lutheran. Sebelum bergabung dengan kemiliteran, Ia bekerja di jaringan pertokoan terkemuka di Baton Rouge dengan penghasilan 67 USD per minggu.
"Saat itu, istri saya sedang mengandung anak kedua. Saya harus melakukan sesuatu untuk hidup saya. Saya menemui tenaga rekrutmen dan akhirnya bergabung dengan kemiliteran. Saya masuk ke bagian artileri. Masuk ke kemiliteran adalah hal terbaik dalam kehidupan saya," ujar Shabazz.
Sebagai seorang prajurit artileri, Shabazz hidup prihatin. Tidur di tempat yang kondisinya sangat buruk, disumpahi, dibentak-bentak, tapi itu semua justru mendewasakannya sebagai manusia dan menjadi titik awal ia mengkaji ulang kehidupan religiusnya.
Suatu hari, Shabazz yang waktu itu belum masuk Islam bertanya pada seorang prajurit yang muslim tentang konsep-konsep ajaran Islam. Shabazz terpesona dengan respon dari prajurit muslim itu dan memutuskan untuk mempelajari agama Islam.
Selama dua tahun Shabazz menekuni agama Islam, dan dalam perjalanananya mempelajari Islam, ia memutuskan untuk menjadi staf di kemiliteran. "Saya masuk sekolah staf militer, karena saya ingin keluar dari pasukan artileri," ujarnya.
Dalam kurun waktu dua tahun itu pula, Shabazz memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang muslim. Ia pun mengganti nama Michael Barnes menjadi Khalid Shabazz. Ujian pertamanya setelah menjadi seorang muslim adalah, ketika ia ditolak untuk meningkatkan skornya agar bisa masuk ke Sekolah Kandidat Opsir. Keislaman dan rutinitas Shabazz menunaikan salat Jumat, menjadi alasan penolakan itu.
Shabazz merasa sangat kecewa. Ia lalu mengadukan persoalannya dan bermaksud minta bantuan pada seorang pembimbing rohani Islam yang bertugas di kemiliteran. Ustaz yang ditemui Shabazz malah menanyakan, mengapa Shabazz tidak mencoba menjadi pembimbing rohani saja, jika ditolak masuk Sekolah Calon Opsir, agar ia bisa membantu orang yang menghadapi persoalan seperti dirinya.
Itulah awal cerita Shabazz menjadi seorang pembimbing rohani di dinas kemiliteran AS. "Saya kira hidup ini begitu menakjubkan. Kalau waktu itu saya dibolehkan meningkatkan skor nilai saya agar diterima di sekolah calon opsir, saya mungkin tidak akan pernah menjadi seorang pembimbing rohani atau ustaz di sini," ungkap Shabazz.
Bertugas Sebagai Ustaz di Kemiliteran
Shabazz lalu belajar metodologi Al-Quran, hadis dan perbandingan agama selama dua setengah tahun, untuk menjadi imam di Graduate School of Islamic and Social Sciences di Ashburn. Ia juga belajar bahasa Arab selama dua tahun di Universitas Yordania di Amman.
Shabazz resmi menjadi pembimbing rohani di kemiliteran AS pada tahun 1999. Ia ditugaskan ke berbagai negara untuk mendampingi para tentara AS yang bertugas di Afrika, Bosnia, Kosovo, Polandia dan Timur Tengah. Ia juga pernah ditugaskan di kamp penjara angkatan laut AS, kamp Guantanamo di Kuba, juga ke Irak selama 15 bulan.
Selama di Irak, Shabazz berkeliling ke barak-barak militer AS, memberikan pemahaman tentang Islam dan aspek budaya Islami pada para komandan dan prajurit nonmuslim. "Saya sampaikan pada para komandan pasukan AS di Irak, apa yang boleh dan tidak boleh berdasarkan ajaran agama Islam," tukasnya.
Shabazz mengatakan, prajurit yang muslim tidak berbeda dengan prajurit yang berlatar belakang agama lain. Tujuan utama mereka adalah ibadah. "Setiap Jumat, kami salat berjamaah. Kami saling memberikan dukungan satu sama lain, berusaha menciptakan kenyamanan bagi para jamaah dan memastikan jika para prajurit sedang menghadapi masalah dan kesulitan, kami selalu ada buat mereka," tandas Shabazz.
Dalam melaksanakan tugasnya, Shabazz mengaku lebih banyak menghabiskan waktunya untuk para prajurit yang nonmuslim. "Saya main bola basket dan angkat berat bersama mereka. Kebanyakan dari mereka dekat dengan saya bukan untuk alasan spiritual, tapi untuk mendapatkan pengarahan, saya menjadi mentor mereka," ujar Shabazz. (kw/IE)